banner 728x250

MEGATREN TATA DUNIA BARU DALAM TAFSIR DENNY JA DAN GIDDENS

oleh Reiner Emyot Ointoe

“Tanpa revolusi dalam urusan internasional dan penegakan hak asasi manusia, perang destruktif tidak akan terhindarkan.” — H.G. Wells(1866-1946), The New World Order(1940).
Kabar buruk tak pernah tiba dengan adab. Ia juga tak pernah minta permisi. Apalagi, dengan setitik sandi.
Dan itu pula yang diterima mantan Menkeu, Purbaya Widi Sadewa ketika lagi sidang dengan DPD RI. Ia dicopot dan diganti wakilnya, Suahasil Nazara.
Meski mungkin tak punya kaitan langsung, ada pula kabar lain yang tiba sebelum waktunya. Tentang sebuah ide: Datangnya Tatanan Dunia Baru.
Kabar itu, sebuah prediksi yang tiba dalam sebuah artikel tentang Konferensi Gastech di Bangkok, 14-17 September 2026 yang diulas Komisaris Pertamina Hulu Energi, Denny JA PhD.
Dalam sebuah artikelnya, Datangnya Tatanan Dunia Baru: Gala Dinner Bersama Tony Blair, ia mengajukan lima gagasan besar:
1. Iran dan masa depan Timur Tengah.
2. Cina dan pertanyaan geopolitik terbesar abad ini.
3. Keamanan energi kini hampir setara keamanan pertahanan.
4. AI akan menjadi sumber baru kekuatan negara.
5. Dunia sedang kembali menuju politik kekuatan.
Dengan kata lain, Denny JA menuntut kita menimbang ulang klaim tentang datangnya tatanan dunia baru sebagai gagasan yang perlu dielaborasi.
Untuk memproyeksikan prediksi lima gagasan hasil gala dinnernya dengan Tony Blair, Perdana Menteri Inggris(1997-2007), saya mengacu pada bacaan berikut.
Tiga lensa elaborasi ini, masing-masing, Anthony Giddens, sohib Blair, dalam The Third Way: The Renewal of Social Democracy(1998), Samuel Huntington dalam The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order(1996) dan Anwar Ibrahim, dalam The Asian Renaissance(1996), kini Perdana Menteri Malaysia.
Proyek filsafat globalisasi Blair, pembicara di gala dinner itu, Anthony Giddens diacu dari The Third Way(1998) yang menegaskan bahwa sosial demokrasi harus diperbarui dengan “social investment state”(SIS).
Tepatnya, dalam SIS, negara bukan lagi sekadar penyedia kesejahteraan pasif, melainkan investor dalam modal manusia.
Gagasan kuncinya, awalnya diuji bersama Blair ke Presiden Bill Clinton, adalah “the renewal of social democracy,” yang menandai upaya menggabungkan dinamika pasar dengan komitmen pada inklusi sosial.
Tony Blair mengadopsi gagasan ini sebagai landasan politik New Labour, sehingga “tatanan baru” di Barat lebih berupa kompromi antara kapitalisme global dan solidaritas sosial.
Namun di sisi lain sebelumnya, Huntington dalam The Clash of Civilizations((1996) mengingatkan bahwa dunia pasca‑Perang Dingin tidak hanya ditentukan oleh ekonomi dan demokrasi, melainkan oleh garis patahan budaya.
Ia mengulas bahwa “Sumber utama konflik di dunia baru ini bukan semata-mata karena ideologi atau ekonomi. Namun sumber konfliknya adalah budaya.”
Dengan demikian, tatanan dunia baru bukanlah konsensus global, melainkan arena benturan peradaban.
Istilah “fault line wars” yang ia gunakan menandaskan bahwa konflik besar akan muncul di perbatasan peradaban, seperti Islam dan Barat, atau Sinik dan Barat.
Kini, justru melanda gagasan pertama Denny, Iran dan Timur Tengah dengan algojo duniaa, Amerika dan Israel
Tafsir ini menantang optimisme Giddens, karena menekankan pluralitas yang tak mudah dijinakkan oleh proyek sosial demokrasi.
Di sisi lain lagi, dari belahan Asia, Anwar Ibrahim dalam The Asian Renaissance(1996) menawarkan tafsir yang lebih normatif dan visioner.
Ia menulis bahwa “tidak ada hak yang lebih unggul dari hak kebenaran”
Dengan demikian, ia menegaskan perlunya kebangkitan Asia harus berakar pada nilai moral, spiritual, dan budaya.
Bagi Anwar, tatanan dunia baru tidak sekadar benturan atau kompromi, melainkan kebangkitan peradaban Asia yang mampu berdialog dengan Barat tanpa kehilangan jati diri.
Bukunya, “Asian Renaissance” menandai sebuah proyek kebudayaan yang menolak subordinasi, sekaligus mengusulkan pluralisme sebagai dasar pertemuan peradaban.
Jika Denny JA menafsirkan datangnya tatanan dunia baru sebagai peluang bagi Indonesia dan Asia untuk menegosiasikan posisi dalam arus global, maka lima tafsir atas gagasan Giddens dapat dikritisi melalui Huntington dan Anwar.
Pertama, gagasan Giddens tentang “cosmopolitan democracy” tampak utopis bila dibandingkan dengan peringatan Huntington tentang “Western universalism as destabilizer.”
Kedua, konsep “social investment state” bisa dibaca sebagai strategi Barat untuk mempertahankan hegemoninya.
Sementara Anwar menekankan perlunya kebangkitan internal Asia.
Ketiga, klaim Giddens bahwa pasar dapat dijinakkan melalui regulasi sosial bertentangan dengan Huntington yang melihat pasar sebagai bagian dari ekspansi Barat.
Keempat, gagasan Giddens tentang pluralisme budaya sejalan dengan Anwar.
Akan tetapi, hal itu berbeda dalam basis normatif.
Giddens berbicara tentang inklusi sosial, Anwar tentang kebangkitan moral.
Kelima, tafsir Denny JA tentang datangnya tatanan dunia baru harus mempertimbangkan bahwa “clash” dan “renaissance” adalah dua horizon yang sama‑sama mungkin, tergantung pada bagaimana peradaban memilih untuk berinteraksi.
Dengan demikian, tafsir kritis datangnya dunia baru ini menunjukkan bahwa tatanan dunia baru bukanlah satu arah menuju konsensus global, melainkan sebuah konstruksi yang akan diperebutkan.
Giddens menawarkan jalan tengah politik, Huntington memperingatkan benturan peradaban, dan Anwar Ibrahim mengusulkan kebangkitan Asia.
Huntington, pencetus benturan peradaban menyeru:
“Peradaban adalah pengelompokan budaya tertinggi dari orang-orang”(civilizations are the highest cultural grouping of people).
Sementara, dari dunia glokalitas Timur, Anwar Ibrahim, seperti telah dikutip sebelumnya dan teks Inggrisnya berikut:
“there is no right superior to the right of truth”
Anwar hendak menunjukkan bahwa dunia baru akan ditentukan bukan hanya oleh politik praktis, tetapi oleh pertemuan dan benturan nilai‑nilai peradaban.
Dalam kerangka ini, tafsir Denny JA perlu diikritis sebagai terlalu optimistik bila tidak mengakui ketegangan antara Third Way, Clash, dan Renaissance sebagai tiga horizon yang membentuk konstruksi dunia baru sejak akhir abad-20.
Manado, 15 September 2026 — Kopi Thiam Komo Luar****

banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *