banner 728x250

oleh : Reiner Emyot Ointoe

“Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia(ICMI) adalah contoh bagaimana intelektual Islam modern bernegosiasi dengan kekuasaan, bukan semata untuk memperjuangkan otonomi intelektual, melainkan juga untuk memperoleh legitimasi politik dalam tubuh negara Orde Baru.” — Daniel Dhakidae(1945–2021), Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru(2003).

Example 300x600

Komentar Cak Imin, Ketum PKB, ihwal keterpurukan kepimpinan NU lima tahun terakhir di bawah NU berparas HMI, kontan bikin para alumni HMI, termasuk saya, mendidih sekaligus sedikit meringis.

Cak Imin dalam pidato Mutakmar NU ke-35 di Jombang menyerang pemimpin NU, Gus Yahya yang alumni HMI UGM, sebagai kegagalan kepemimpinan NU?
Melirik sejenak rekam jejak Cak Imin, sejauh ini, tak punya pengalaman yang “cukup dan benar.”

Ia sepenuhnya ada di PMII dan di bawah bimbingan pamannya, Gus Dur, yang kelak setelah mendirikan PKB, dicongkelnya sendiri.

Padahal, sejarah modernisasi Islam paling kental justru lahir dari Gus Dur di NU dan Cak Nur di HMI.
Dengan NU garis lurus dan HMI garis tengah, segala bentuk modernisasi dalam Islam, selain Muhammadiyah tentunya, ada di tangan kader NU dan HMI — sebelum dan sesudah Gus Dur dan Cak Nur.

Pada garis persilangan ini, sadar atau tidak, radar politik intelektual Cak Imin tampak jauh dari radius dinamika itu.
Sekurang-kurangnya, seperti saya setelah khatam dengan NDI, terutama bisa dibaca dari Islam dan Kemodernan(1982) Cak Nur dan Pergulatan Islam di Indonesia(1982) dari Gus Dur, bisa dipahami bagaimana menelisik kiprah Cak Imin dalam tradisi modernisasi dan pembaharuan Islam.

Dari kedua buku, Gus Dur dan Cak Nur bisa dikutip perspektif mereka:
“Islam di Indonesia adalah pergulatan antara tradisi dan modernitas, antara pesantren dan universitas, antara desa dan kota.”

“Islam adalah agama kemerdekaan, yang menuntut manusia untuk berani menghadapi tantangan zaman dengan akal dan hati nurani.”

Jika ia hendak ditokohkan dalam garis sejarah ormas Islam gardAa depan, kemampuan politik intelektualnya harus dipertanyakan selama lebih dari tiga dasawarsa sangat dekat dengan kekuasaan dan kepemimpinan.

Karena itu, penyataan Cak Imin menyalahkan kepemimpinan NU tercemar akibat ada kimia biopolitik HMI di dalam diri Gus Yahya, nalar sepenuhnya mengandung cacat historis dan distorsi waham modernisasi keislaman.

Buktinya, nalar sejarah HMI dipenuhi tokoh-tokoh “belut dan belit” seperti Mahfud MD, Bahlil Lahadalia hingga Jimmly Asshidiq yang sebahagian besar pernah bermukim di ICMI.

Bahkan hingga kini, pada Haul ke-21 Cak Nur, aura politik intelektual yang digagas Cak Nur terus berkecambah di sarang kekuasaan yang seringkali gelap dan sarat mudarat.

Akan tetapi, sekilas percik sejarah politik intelektual NU dan HMI, mustahil bisa disandingkan.

Betapapun keduanya, tetap berjalan paralel di tengah zaman makin penuh kawat berduri modernisasi materialisme.

Tidak NU, pun tidak HMI, arus keduanya tetap berada di pusat bendungan paling besar dan tak pernah tampak: immaterialisme.

Dengan kata lain, pernyataan Cak Imin itu sekedar blur pidato yang kehilangan kepekaan
menunjukkan kapasitas politik intelektualnya yang, mungkin saja, tak ingin keluar dari kemayaan kekuasaan belaka?
Atau, timbang tak ada suara signifikan di lahan muktamar dan muktamirin — dan tentu itu tambang suara PKB kapanpun — bersuaralah meski cuma dari mimbar pidato. (Red).

banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *